MBG di Lembak Muara Enim Tinggal Start! Sekolah dan Dapur Sudah Siap

MUARA ENIM, Pikiranrakyatsumsel – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah wilayah masih menunggu penetapan resmi dari koordinator wilayah (korwil). Meski demikian, kesiapan di lapangan, termasuk dapur penyedia makanan, disebut sudah hampir rampung.

Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga saat ini masih berada pada tahap menunggu keputusan resmi dari pihak terkait, khususnya penetapan dari koordinator wilayah (korwil). Hal ini membuat sejumlah pihak di lapangan belum dapat menjalankan program secara penuh.

Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Lembak, H Saihul, S.Pd, M.M., mengatakan bahwa pihaknya saat ini masih menunggu arahan resmi terkait pelaksanaan program tersebut di wilayahnya.

“Untuk saat ini kita masih menunggu penetapan dari korwil. Jadi tinggal menunggu keputusan saja, mana yang lebih dulu ditetapkan,” ujar Saihul saat ditemui media, Selasa (12/5/2026).

Meski masih menunggu, sambung dia, berbagai persiapan disebut telah dilakukan sejak jauh hari. Para pengelola dapur, yang menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program, juga telah menyatakan kesiapan mereka untuk segera beroperasi.

Saihul menegaskan, seluruh dapur pada prinsipnya siap menjalankan program, selama kualitas dan standar yang ditetapkan pemerintah dapat dipenuhi.

“Yang jelas kami siap. Seluruh dapur siap, yang penting kualitasnya sesuai dengan standar,” tegasnya.

Dari sisi penerima manfaat, jumlah yang disiapkan tergolong besar. Program ini diperkirakan akan menjangkau ribuan penerima manfaat secara bertahap.

Program MBG sendiri diketahui telah berjalan selama kurang lebih dua tahun, meskipun implementasinya belum merata di seluruh wilayah. Beberapa zona bahkan masih belum tersentuh program tersebut.

Di Kecamatan Lembak, program ini direncanakan akan mulai berjalan dalam waktu dekat, berdasarkan informasi yang beredar di kalangan pengelola dapur.

Meski demikian, Saihul menegaskan bahwa pihaknya tidak dalam posisi untuk memilih atau memaksakan keterlibatan dalam program tersebut.

“Kami ini tidak memilih-milih, juga tidak memaksakan. Kalau memang ditunjuk, kami siap menjalankan,” pungkasnya.

Ke depan, diharapkan penetapan dari pihak korwil dapat segera dilakukan agar program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan optimal dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat. (dn)

banner 400x130

Dapur SPPG Lembak Betuah Siap Salurkan Makan Bergizi Gratis

MUARA ENIM, Pikiranrakyatsumsel – Program makan bergizi gratis di Kecamatan Lembak, Kabupaten Muara Enim, segera direalisasikan. Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lembak Betuah yang berada dibawah naungan Yayasan Manunggal Kartika Jaya menyatakan kesiapan untuk menyalurkan bantuan kepada para penerima manfaat, khususnya siswa sekolah.

Pengelola dapur SPPG Lembak Betuah, Rifki Baday SH MKn, menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan pemangku kepentingan, mulai dari camat, kepala desa, hingga pihak sekolah sebagai penanggung jawab penerima manfaat.

“Kami sudah menyampaikan kesiapan ini kepada pemerintah setempat, baik camat maupun kepala desa. Kami juga berharap pihak sekolah dapat bersinergi dan berkolaborasi agar program ini berjalan optimal,” ujar Rifki diwawancarai awak media, Selasa (12/5/2026).

Ia menekankan pentingnya peran sekolah dalam mendukung kelancaran program, termasuk memberikan masukan, saran, hingga kritik demi perbaikan layanan ke depan.

“Dapur SPPG Lembak Betuah sendiri akan beroperasi sesuai dengan petunjuk teknis dan pelaksanaan yang telah ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN),” kata dia.

Lebih lanjut Rifki menuturkan, bahwa di wilayah tersebut, direncanakan akan ada sekitar empat dapur yang beroperasi untuk menjangkau lebih banyak penerima manfaat.

Selain itu, pihak pengelola juga akan terus menjalin komunikasi dengan dapur-dapur lain serta koordinator kecamatan guna mendorong percepatan operasional secara menyeluruh.

“Terkait waktu pelaksanaan, program ini diperkirakan mulai berjalan dalam waktu dekat. Setelah pihak sekolah menandatangani surat pernyataan sebagai penerima manfaat, penyaluran makanan bergizi diproyeksikan dapat dimulai dalam kurun waktu 2 hingga 3 hari,” ungkapnya.

Dengan segera beroperasinya dapur SPPG Lembak Betuah, diharapkan anak-anak sekolah di Kecamatan Lembak, khususnya Desa Lembak, dapat segera merasakan manfaat program makan bergizi gratis guna mendukung kesehatan dan kualitas pendidikan mereka. (dn)

Alpukat Mentah jadi Menu MBG di SMK 1 Prabumulih

PRABUMULIH, Pikiranrakyatsumsel – Para orangtua murid mengeluhkan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan ke para pelajar di SMK Negeri 1 Prabumulih. Pasalnya, menu dalam program kebanggaan Presiden Prabowo itu, dinilai tak sesuai ekspektasi.

Sejumlah orangtua murid membongkar isi menu MBG yang dianggap jauh dari kata “bergizi”. Yakni, berisi sepotong ayam ungkep kecil, satu iris tempe, dan satu buah alpukat mentah.

“Kami bersyukur ada program MBG gratis. Tapi apakah ini makanan yang dinamakan bergizi?. Buah alpukat memang bergizi kalau dimakan kondisi matang. Nah kalau dikonsumsi mentah malah jadi penyakit,” ujar satu di antara orangtua murid yang enggan disebut namanya kepada media ini, Rabu (4/3/2026).

Menurut mereka, menu tersebut jauh dari harapan terhadap program yang mengusung pemenuhan gizi anak. Paket makanan yang dibagikan dinilai lebih menyerupai makanan ringan ketimbang menu bergizi untuk menunjang kebutuhan nutrisi anak.

Selain itu, para ‘makhluk terkuat di bumi’ tersebut berharap, menu MBG yang dibagikan pada bulan Ramadhan ini lebih disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa.

“Sebagai orangtua murid di SMK 1 ini, kami berharap standar gizi MBG ini bisa lebih diperhatikan. Anak-anak butuh asupan yang cukup untuk belajar,” katanya.

Sementara, hingga berita ini dipublikasikan, pihak SMA Negeri 1 Prabumulih belum memberikan keterangan resmi terkait menu MBG tersebut. Begitupun pihak dapur SPPG yang membagikan MBG itu juga belum terkonfirmasi untuk dimintai tanggapannya. (*/Tim)

Menu MBG Ramadhan jadi Sorotan, Publik Pertanyakan Peran Ahli Gizi di Dapur SPPG Prabumulih

​PRABUMULIH, Pikiranrakyatsumsel – Peran Ahli Gizi di Dapur MBG Satuan Pelaksana Pelayanan Gizi (SPPG) di Kota Prabumulih, belakangan ini menjadi sorotan, bahkan soal kompetensi pun dipertanyakan publik. Alih-alih menuai apresiasi, jagat media sosial justru riuh dengan keluhan terkait kualitas paket menu ‘kering’ MBG yang dibagikan.

Grup-grup media sosial penuh dengan unggahan menu ‘kering’ MBG yang disajikan saat bulan Ramadhan 1447 Hijriyah. Mulai dari menu yang dianggap kurang variatif, hingga temuan buah alpukat dan telur rebus busuk saat dibawa pulang siswa.

Beberapa unggahan menu-menu MBG diketahui dalam seminggu terakhir ramai di berbagai Platform media sosial Prabumulih, dan membuat heboh jagat maya. Dan kini jadi perbincangan publik khususnya warga masyarakat di Prabumulih.

Menu MBG Ramadhan jadi Sorotan, Publik Pertanyakan Peran Ahli Gizi di SPPG Prabumulih (Foto: screenshot fb/PRsumsel)

Salah satunya terjadi di wilayah Kecamatan Prabumulih Selatan, Kota Prabumulih. Dalam unggahan di grup Facebook bernama Berita Prabumulih, menu MBG didapat dari salah satu sekolah terlihat unik, terdiri dari telur rebus, sepotong roti, dan satu buah alpukat. Menu ini diduga didistribusikan ke sekolah dari SPPG wilayah tersebut.

Akun anonim yang memposting makanan itu menyebut jika buah alpukat tersebut busuk. Tak hanya itu, akun ini juga mengungkapkan kekecewaannya sebagai orangtua dengan menuliskan :

Menu MBG Ramadhan jadi Sorotan, Publik Pertanyakan Peran Ahli Gizi di SPPG Prabumulih (Foto: screenshot fb/PRsumsel)

“Assalamualaikum Wr. Wb. yang terhormat Badan Gizi Nasional, khususnya SPPG kota Prabumulih Selatan. Mohon maaf, bukannya kami tidak bersyukur dengan program MBG yang diterima, akan tetapi alangkah kecewanya hati kami melihat kenyataan dilapangan, paket MBG seperti ini bukan 1x atau 2x saja. Mohon untuk kedepannya lebih diperhatikan lagi makanan yang diberikan KPD Anak”. Kita semua manusia punya hati nurani, bayangkan kalau anak kita diberikan sesuatu hal yg tidak baik, betapa kecewa hati orgtua. semoga kedepannya bisa di evaluasi dan ditindak lanjuti. Wassalamualaikum Wr. Wb” tulis akun anonim di beranda grup Facebook Berita Prabumulih, pada Sabtu (28/2/2026).

Polemik menu ‘kering’ MBG di kota Prabumulih ini pun memantik kritik berbagai kalangan yang khawatir akan standar pelayanan gizi program MBG, hingga memunculkan pertanyaan publik atas peran dan kompetensi Ahli Gizi yang ditempatkan di sejumlah dapur SPPG kota nanas itu.

“Tanpa ahli program besar bisa tetap berjalan, tetapi ketepatan sasaran dan efektivitasnya menurun, ini perlu dipertanyakan ahli gizinya,” tulis salah satu akun di kolom komentar postingan akun Facebook Viral Prabumulih.

“Makanan dak rupo makanan, pihak pengelola harus nyo evaluasi, introspeksi kinerja dapur nyo kalo dak sanggup menuhi kebutuhan mending ambek dikit bae sampe ado kepala SPPG yang pingsan Karno dak sanggup sampai target,” komentar akun lainnya.

Belum ada tanggapan resmi dari pihak dapur SPPG di kota Prabumulih hingga berita ini ditayangkan terkait sejumlah menu MBG yang dikeluhkan warga tersebut. Tim media ini juga telah mencoba menghubungi salah satu pengelola dapur SPPG di wilayah Kecamatan Prabumulih Selatan melalui pesan singkat aplikasi WhatsApp juga belum dijawab.

Menurut Kaprodi Program Studi Profesi Dietisien UMS Dr. Dwi Sarbini, S.ST., M.Kes. yang dikutip dari lama platform Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sabtu (28/2/2026), menyebutkan kompetensi seorang ahli gizi hanya dapat diperoleh melalui pendidikan profesi dengan dasar etik dan tanggung jawab hukum. Kompetensi mereka tak bisa didapatkan dari pelatihan singkat, sehingga perannya pun tak bisa digeser oleh tenaga tanpa latar belakang ilmu gizi.

Ahli gizi bertanggung jawab memastikan menu MBG memenuhi AKG, menghitung kebutuhan porsi, memilih bahan pangan yang aman dan terjangkau, serta mengawasi proses penyimpanan dan pengolahan agar higienis. Jika benar peran ahli gizi dihapus atau digantikan tenaga non profesional, risiko yang muncul akan berakibat fatal.

“Menu MBG bisa-bisa tak seimbang gizinya, terkontaminasi, adanya ketidakcocokan asupan energi dengan kebutuhan anak, hingga potensi kasus keracunan makanan, dan merosotnya efektivitas program dalam jangka panjang,” kritik Dwi.

Sementara, Dewan Pakar Badan Gizi Nasional (BGN) Ikeu Tanziha, bahwa karir ahli gizi yang bekerja di SPPG sudah jelas. Seperti kutipannya yang didapat dari laman Media Tempo. Ia mengemukakan, ahli gizi yang bekerja di SPPG secara otomatis menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).

“Artinya itu kan sudah ada ya PPPK diakui oleh pemerintah dan sekarang beberapa SPPG ahli gizinya sudah masuk PPPK. Jadi memang bertahap ya,” kata dia. (dn)

Dorong Standar Gizi Terpenuhi, Dinkes Prabumulih Anjurkan Ikan Gabus sebagai Olahan Menu MBG

PRABUMULIH, Pikiranrakyatsumsel – Beranda platform di sejumlah media sosial khususnya di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan (Sumsel) belakangan ini dipenuhi postingan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut-sebut tak sesuai gizi dan dianggap warganet tidak layak.

Menanggapi hal itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Prabumulih, siap memastikan setiap menu yang disajikan pada program Makanan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadhan 1447 H telah memenuhi standar kecukupan gizi sesuai dengan sasaran atau kategori penerima.

“Iya tentu protein hewani sangat berguna untuk peningkatan visi bagi anak-anak kita,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Prabumulih, Djoko Listyano, SKM MSi diwawancarai awak media di Kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Prabumulih, Jumat (27/2/2026).

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Prabumulih, Djoko Listyano, SKM MSi (Foto: Ist/PRsumsel)

Program MBG merupakan salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam upaya mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Tujuan utamanya, kata dia adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menekan angka stunting melalui perbaikan gizi anak.

Menurut Djoko, peran Dinkes Prabumulih dalam Program MBG ini utamanya untuk memastikan gizi dari menu makanan yang disajikan sudah sesuai dengan standar kecukupan gizi.

“Peran Dinkes sendiri dalam program MBG ini utamanya berkaitan dengan gizi, seperti pengukuran status gizi yang sesuai dan menentukan menu yang sesuai dengan status gizi,” ujarnya.

Disebutkan Djoko, bahwa angka kecukupan gizi bagi setiap sasaran berbeda-beda berdasarkan usia maupun kondisi penerima, baik itu untuk balita, ibu hamil, hingga pelajar sesuai jenjang pendidikan.

Dalam hal ini, Dinkes Prabumulih juga menekankan pentingnya pengelola MBG untuk menyajikan menu olahan sesuai standar keamanan pangan dan gizi seimbang. Bahan pangan yang digunakan pun, lanjutnya utamakan bahan pangan lokal untuk menjaga kualitas dan menyesuaikan dengan biaya yang dikeluarkan.

“Memang ada standar khusus penentuannya, dan disinilah peran petugas ataupun ahli gizi dibutuhkan,” terang Djoko seraya menyatakan hal tersebut bertujuan untuk memastikan makanan aman, higienis, dan memenuhi kebutuhan nutrisi sasaran.

Disamping itu, Djoko pun menyampaikan satu hal yang perlu diketahui masyarakat khususnya warga Prabumulih, agar menghindari kesalahpahaman nantinya yakni menu untuk Program MBG ini mengacu pada standar kecukupan gizi bukan menu.

“Nah terkait menu olahan seperti olahan ikan, kami juga menginginkan agar pengelola dapur MBG untuk mencari ikan-ikan yang segar dan dikelola menjadi makanan yang kaya protein dan gizi,” imbuhnya.

“Makanan-makanan olahan yang sehat seperti tekwan atau semacam siomay dan lainnya bisa menggunakan ikan-ikan gabus yang memang nilai standar gizi dan proteinnya tinggi,” tandasnya. (dn)

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.